Get Adobe Flash player

INFORMASI : SILAHKAN KUNJUNGI WEBSITE TERBARU WMC DI : mediasiwalisongo.com ATAU SILAHKAN LANGSUNG KLIK DISINI... TERIMA KASIH...

Statistik

Members : 4674
Content : 62
Content View Hits : 139123
We have 54 guests online

mediasi: pengantar teori dan praktek

 

Muslih MZ

Pendahuluan

     Mediasi merupakan salah satu bentuk penyelesaian persengketaan yang diselenggarakan di luar pengadilan, dimana pihak-pihak yang bersengketa meminta atau menggunakan bantuan dari pihak ketiga yang netral untuk membantu menyelesaikan pertikaian di antara mereka. Mediasi ini berbeda dengan bentuk penyelesaian pertikaian alternatif yang lain seperti negosisi atau arbritrasi, karena di dalam mediasi ini selain menghadirkan seorang penengah (mediator) yang netral, secara teori ia dibangun di atas beberapa landasan filosofis seperti confidentiality (kerahasiaan), voluntariness (kesukarelaan), empowerment (pemberdayaan), neutrality (kenetralan), dan unique solution (solusi yang unik).(David Spencer, Michael Brogan, 2006:3). Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang apa itu mediasi maka dalam tulisan singkat ini akan disampaikan dan dibahas poin-poin berikut: (1) pengertian mediasi dan mediator, (2) model-model mediasi, (3) prinsip-prinsip mediasi, (4) tahap-tahap mediasi, (5) teknik mediasi.

1. Pengertian Mediasi

Secara etimologi (bahasa), mediasi berasal dari bahasa latin mediare yang berarti “berada di tengah” karena seorang yang melakukan mediasi (mediator) harus berada di tengah orang yang berikai.

Dari segi terminologi (istilah) terdapat banyak pendapat yang memberikan penekanan yang berbeda tentang mediasi. Meski banyak yang memperdebatkan mengenai apa sebenarnya yang dimaksud dengan mediasi, namun setidaknya ada beberapa batasan atau definisi yang bisa dijadikan acuan. Salah satu diantaranya adalah definisi yang diberikan oleh the National Alternative Dispute Resolution Advisory Council yang mendefinisikan mediasi sebagai berikut: Mediation is a process in which the parties to a dispute, with the assistance of a dispute resolution practitioner (the mediator), identify the disputed issues, develop options, consider alternatives and endeavour to reach an agreement. The mediator has no advisory or determinative role in regard to the content of the dispute or the outcome of its resolution, but may advise on or determine the process of mediation whereby resolution is attempted. (David Spencer, Michael Brogan, 2006:9) (Mediasi merupakan sebuah proses dimana pihak-pihak yang bertikai, dengan bantuan dari seorang praktisi resolusi pertikaian (mediator) mengidentifikasi isu-isu yang dipersengketakan, mengembangkan opsi-opsi, mempertimbangkan alternatif-alternatif dan upaya untuk mencapai sebuah kesepakatan. Dalam hal ini sang mediator tidak memiliki peran menentukan dalam kaitannya dengan isi/materi persengketaan atau hasil dari resolusi persengketaan tersebut, tetapi ia (mediator) dapat memberi saran atau menentukan sebuah proses mediasi untuk mengupayakan sebuah resolusi/penyelesaian).

Jadi, secara singkat bisa digambarkan bahwa mediasi merupakan suatu proses penyelesaian pihak-pihak yang bertikai untuk mencapai penyelesaian yang memuaskan melalui pihak ketiga yang netral (mediator).

Keberhasilan mediasi bisa dipengaruhi oleh beberapa hal, seperti kualitas mediator (training dan profesionalitas), usaha-usaha yang dilakukan oleh kedua pihak yang sedang bertikai, serta kepercayaan dari kedua pihak terhadap proses mediasi, kepercayaan terhadap mediator, kepercayaan terhadap masing-masing pihak. Seorang mediator yang baik dalam melakukan tugasnya akan merasa sangat senang untuk membantu orang lain mengatasi masalah mereka sendiri, ia akan berindak netral seperti seorang ayah yang penuh kasih, meningkatkan kualitas pengambilan keputusan, mempunyai metode yang harmonis, mempunyai kemampuan dan sikap, memiliki integritas dalam menjalankan proses mediasi serta dapat dipercaya dan berorientasi pada pelayanan. Beberapa sikap dasar yang harus dimiliki oleh mediator adalah: bersikap terbuka, mandiri, netral, percaya diri, menghormati orang lain, seimbang, mempunyai komitmen, fleksibel, bisa memimpin proses mediasi dengan baik, percaya pada orang lain dan bisa dipecaya oleh orang lain serta berorientasi pada pelayanan. Dengan kata lain, ketika membantu menyelesaikan konflik, seorang mediator/penegah harus:

v Fokus pada persoalan, bukan terhadap kesalahan orang lain.

v Mengerti dan menghormati terhadap setiap perbedaan pandangan.

v Memiliki keinginan berbagi dan merasakan.

v Bekerja sama dalam menyelesaikan masalah.

2. Model-model Mediasi

Ada beberapa model mediasi yang perlu diperhatikan oleh pelajar dan praktisi mediasi. Lawrence Boulle, professor of law dan associate director of the Dispute Resolution Center, Bond University mengemukakan bahwa model-model ini didasarkan pada model klasik tetapi berbeda dalam hal tujuan yang hendak dicapai dan cara sang mediator melihat posisi dan peran mereka. Boulle menyebutkan ada empat model mediasi, yaitu: settlement mediation, facilitative mediation, transformative mediation, dan evaluative mediation.

           Settlement mediation yang juga dikenal sebagai mediasi kompromi merupakan mediasi yang tujuan utamanya adalah untuk mendorong terwujudnya kompromi dari tuntutan kedua belah pihak yang sedang bertikai. Dalam mediasi model ini tipe mediator yang dikehendaki adalah yang berstatus tinggi sekalipun tidak terlalu ahli di dalam proses dan teknik-teknik mediasi. Adapun peran yang bisa dimainkan oleh mediator adalah menentukan “bottom lines” dari disputants dan secara persuasif mendorong disputants untuk sama-sama menurunkan posisi mereka ke titik kompromi.

Facilitative mediation yang juga disebut sebagai mediasi yang berbasis kepentingan (interest-based) dan problem solving merupakan mediasi yang bertujuan untuk menghindarkan disputants dari posisi mereka dan menegosasikan kebutuhan dan kepentingan para disputants dari pada hak-hak legal mereka secara kaku. Dalam model ini sang mediator harus ahli dalam proses dan harus menguasi teknik-teknik mediasi, meskipun penguasaan terhadap materi tentang hal-hal yang dipersengketakan tidak terlalu penting. Dalam hal ini sang mediator harus dapat memimpin proses mediasi dan mengupayakan dialog yang konstruktif di antara disputants, serta meningkatkan upaya-upaya negosiasi dan mengupayakan kesepakatan.

Transformative mediation yang juga dikenal sebagai mediasi terapi dan rekonsiliasi, merupakan mediasi yang menekankan untuk mencari penyebab yang mendasari munculnya permasalahan di antara disputants, dengan pertimbagan untuk meningkatkan hubungan di antara mereka melalui pengakuan dan pemberdayaan sebagai dasar dari resolusi (jalan keluar) dari pertikaian yang ada. Dalam model ini sang mediator harus dapat menggunakan terapi dan teknik professional sebelum dan selama proses mediasi serta mengangkat isu relasi/hubungan melalui pemberdayaan dan pengakuan.

Sedangkan evaluative mediation yang juga dikenal sebagai mediasi normative merupakan model mediasi yang bertujuan untuk mencari kesepakatan berdasarkan pada hak-hak legal dari para disputans dalam wilayah yang diantisipasi oleh pengadilan. Dalam hal ini sang mediator haruslah seorang yang ahli dan menguasai bidang-bidang yang dipersengketakan meskipun tidak ahli dalam teknik-teknik mediasi. Peran yang bisa dijalankan oleh mediator dalam hal ini ialah memberikan informasi dan saran serta persuasi kepada para disputans, dan memberikan prediksi tentang hasil-hasil yang akan didapatkan. (David Spencer, Michael Brogan, 2006:101-103).

3. Prinsip-prinsip Mediasi

Dalam mediasi ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pelajar dan praktisi, yakni hal-hal yang dasar filosofis diadakannya mediasi. Ruth Charlton, sebagaimana dikutip oleh David Spencer dan Michael Brogan (2006:84-85) menyebutnya sebagai “the five basic philosophies of mediation”, yakni: confidentiality, voluntariness, empowerment, neutrality, a unique solution.

Prinsip pertama dari mediasi, sebagaimana dikemukakan oleh Charlton, adalah confidentiality (kerahasiaan), yaitu bahwasannya segala sesuatu yang terjadi di dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh mediator dan disputants (pihak-pihak yang bertikai) bersifat rahasia dan tidak boleh disiarkan kepada publik atau pers oleh masing-masing pihak. Demikian juga sang mediator harus menjaga kerahasiaan dari isi mediasi tersebut serta sebaiknya menghancurkan semua catatannya di akhir sesi mediasi yang ia lakukan. Mediator juga tidak bisa dipanggil sebagai saksi dalam kasus yang dilakukan penyelesaiannya di dalam mediasi yang ia prakarsai apabila kasus tersebut dibawa ke forum yang lain, seperti pengadilan. Masing-masing pihak yang bertikai (disputants) disarankan untuk saling menghormati kerahasiaan tiap-tiap isu dan kepentingan dari masing-masing pihak. Jaminan kerahasiaan ini harus diberikan supaya masing-masing pihak dapat mengungkapkan masalah dan kebutuhannya secara langsung dan terbuka.

         Prinsip kedua, voluntariness (kesukarelaan). Yakni masing-masing pihak yang bertikai (disputants) datang ke mediasi atas kemauan diri sendiri secara suka rela dan tidak ada paksaan dari pihak luar. Prinsip kesukarelaan ini dibangun atas dasar bahwa orang akan mau bekerja sama untuk menemukan jalan keluar dari persengketaan mereka bila mereka datang ke tempat perundingan atas pilihan mereka sendiri.

Prinsip ketiga, empowerment (pemberdayaan). Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa orang yang mau datang ke mediasi sebenarnya mempunyai kemampuan untuk menegosiasikan masalah mereka sendiri dan dapat mencapai kesepakatan yang mereka inginkan. Kemampuan mereka dalam hal ini harus diakui dan dihargai, oleh karena itu setiap solusi atau jalan penyelesaian sebaiknya tidak dipaksakan dari luar tetapi harus muncul dari pemberdayaan terhadap masing-masing pihak (disputants) karena hal itu akan lebih memungkin bagi keduanya untuk menerimanya.

Prinsip keempat, neutrality (netralitas). Di dalam mediasi peran seorang meditor hanyalah memfasilitasi prosesnya saja dan isinya tetap menjadi milik disputans (pihak yang bertikai), sedangkan mediator hanya mengontrol proses. Di dalam mediasi seorang mediator tidak bertindak layaknya seorang hakim atau juri yang memutuskan salah benarnya salah satu pihak atau mendukung pendapat dari salah satunya, atau memaksakan pendapat dan jalan keluar/penyelesaian kepada kedua belah pihak.

Prinsip kelima, a uniqe solution (solusi yang unik). Bahwasanya solusi yang dihasilkan dari proses mediasi tidak harus sesuai dengan standar legal, tetapi dihasilkan dari proses kreatifitas dan oleh karenanya hasilnya mungkin akan lebih banyak. Hal ini berkaitan erat dengan konsep pemberdayaan terhadap masing-masing pihak.

4. Tahap-Tahap Mediasi

Dalam melakukan mediasi ada beberapa tahapan yang harus diperhatikan, yaitu:

Tahap I: Setuju untuk menengahi (Agree to mediate)

Pada tahap ini persiapan yang harus dilakukan oleh seorang mediator adalah:

§       Meraih dan menemukan kesadaran diri melalui pikiran, perasaan, dan harapan.

§     Menentukan waktu yang tepat untuk membahas konflik dari pihak-pihak yang bertikai.

§     Menciptakan suasana yang positif bagi kedua belah pihak yang sedang bertikai.

Tahap II: Menghimpun sudut pandang (Gather points of view)

Pada tahap ini persiapan yang bisa yang harus dilakukan oleh mediator adalah:

§     Melakukan penuturan cerita (story-telling), dan membiarkan pihak-pihak yang sedang bertikai untuk menuturkan cerita mereka tanpa diinterupsi.

§     Menggunakan ketrampilan berkomunikasi secara efektif.

Tahap III: Memusatkan perhatian pada kebutuhan (Focus on interest)

Pada tahap ini persiapan yang bisa dilakukan oleh mediator adalah:

Menggali lebih dalam mengenai kebutuhan (interest) dari masing-masing pihak yang sedang bertikai dengan mengajak mereka berdialog untuk menggali pokok permasalahan dan kebutuhan mereka. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara:

§     Melihat apa yang ada di bawah batas posisi dan kebutuhan masing-masing pihak yang bertikai, dan setelah itu meditor mengklarifikasi pokok permasalahan tersebut, sehingga mediator dapat memahami situasinya dengan baik.

§     Merangkum dengan baik permasalahan maupun kebutuhan dari masing-masing pihak yang sedang bertikai.

Tahap IV: Menciptakan pilihan terbaik (Create win-win options)

Pada tahap ini mediator membantu pihak-pihak yang bertikai untuk mencarikan solusi bagi permasalahan mereka dengan cara memberikan beberapa ide/gagasan (brainstorm solutions). Untuk mencapai hal tersebut mediator harus:

§     Sebisa mungkin mendapatkan ide-ide untuk solusi menang/menang.

§     Bersikap kreatif dan jangan menyalahkan ide-ide yang disampaikan oleh masing-masaing pihak yang bertikai selama proses penyampaian ide.

§     Melakukan evaluasi terhadap solusi yang ditawarkan oleh masing-masing pihak yang bertikai untuk dipelajari lebih lanjut sehingga akan ditemukan solusi mana yang paling tepat untuk penyelesaian suatu konflik. Jika tidak ada solusi yang didapat maka mediator harus mengulangi lagi proses penyelesaian konflik dan mempelajari kembali langkah-langkah dari awal.

§     Memilih solusi yang disetujui oleh para pihak yang sedang berkonflik. Jika tidak ada solusi yang disepakati maka mediator harus meneruskan brainstorming, atau mengulangi langkah-langkah penyelesaian dari awal (hal ini bisa mungkin terjadi karena mediator belum sampai ke permasalahan “yang sebenarnya”).

Tahap V: Mengevaluasi pilihan (Evaluate options)

Jika opsi telah ditemukan, maka mediator harus memeriksa kembali opsi tersebut untuk memastikan bahwa konflik tersebut benar-benar telah diselesaikan atau ditemukan penyelesaiannya.

Tahap VI: Menciptakan kesepakatan (Create an agreement)

Pada tahap ini mediator harus mampu merumuskan solusi / resolusi dari suatu konflik dalam rumusan yang jelas dengan cara:

§     Membuat solusi dalam rumusan yang sejelas mungkin (mengenai siapa, apa, kapan, dan bagaimana).

§     Membicarakan kondisi “Bagaimana jika”. Mediator bisa meminta pihak-pihak yang bertikai untuk mengatakan apa yang akan mereka lakukan jika mereka tidak dapat memenuhi kesepakatan yang mereka buat tersebut.

§     Mengakui keberhasilan pihak-pihak yang bertikai dalam mencapai kesepakatan. Mediator harus mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang bertikai atas kesediaan mereka bekerja sama melakukan semuanya.

5. Teknik Mediasi

Dalam kaitannya dengan teknik mediasi ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dari seorang mediator agar proses mediasi dapat berjalan lancar dan memperoleh hasil yang maksimal. Beberapa hal tersebut di antaranya adalah bahwa seorang mediator perlu untuk bersikap “SOLER” dalam melakukan praktek mediasi. Yang dimaksud dengan ungkapan SOLER di sini adalah: squarely

S (squarely). Seorang mediator ketika sedang duduk dan berbicara dengan pihak yang bertikai (disputans), janganlah sambil berdiri, tetapi sebaiknya tetaplah dalam posisi duduk agar bisa berhadapan langsung dengan pihak yang berkonflik ketika mereka sedang berbicara.

O (open stance). Agar selalu terlihat memperhatikan kepada pihak yang bertikai (disputants) dan tidak menunjukkan sikap acuh, sebaiknya mediator jangan pernah menyilangkan tangannya di dada, tetapi lebih baik tangan tetap di bawah.

L (lean forward). Ketika sedang bicara dengan pihak yang bertikai (disputants), mediator sebaiknya sedikit membungkukkan badannya ke arah pembicara agar terlihat bahwa mediator memberikan perhatian penuh.

E (eye contact). Dalam melakukan tugasnya mediator harus melakukan kontak mata dengan pihak yang bertikai (disputants). Hal ini penting sebagai bagian dari bahasa tubuh, sebagai tanda bahwa mediator memperhatikan pembicaraan mereka.

R (relax). Mediator harus senantiasa bersikap rileks dan santai serta tidak perlu tegang sehingga akan memudahkan komunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai.

Selain bersikap SOLER seorang mediator perlu memperhatikan beberapa langkah-langkah yang harus dilakukan ketika menjalankan proses mediasi. Langkah-langkah tersebut bisa digambarkan secara berurutan sebagai berikut: (a) perkenalan, (b) penuturan cerita, (c) mengklarifkasi permasalahan dan kebutuhan, (d) menyelesaikan masalah, (e) merancang kesepakatan.

(a)         Perkenalan

1.   Mediator memperkenalkan diri. Pada langkah pertama ini mediator memberi salam pembuka kepada pihak-pihak yang sedang bertikai serta memperkenalkan identitas dirinya.

2.   Mediator memberitahukan perannya. Mediator menjelaskan kepada pihak-pihak yang sedang bertikai bahwa ia (mediator) tidak memerankan dirinya sebagai seorang hakim, ia tidak memihak atau memutuskan siapa yang salah dan siapa yang benar. Mediator juga harus memberitahukan kepada pihak-pihak yang sedang bertikai bahwa tugasnya adalah membantu mereka untuk mencapai kesepakatan penyelesaian konflik yang memuaskan kedua belah pihak.

3.   Mediator memberitahukan apa yang akan dilakukan. Mediator memberitahukan kepada kedua belah pihak yang sedang bertikai bahwa mereka mempunyai kesempatan yang sama untuk menuturkan cerita mereka. Mediator akan mengajukan pertanyaan dan rangkuman untuk memastikan bahwa mediator benar-benar telah memahami permasalahan yang diutarakan oleh pihak-pihak yang sedang bertikai, untuk selanjutnya mediator mengidentifikasi permasalahan-permasalahan yang penting bagi pihak yang bertikai. Mediator memberitahukan kepada pihak yang bertikai bahwa ia akan membantu mengembangkan beberapa opsi. Dan bila dianggap perlu mediator mengadakan pertemuan kaukus dengan pihak yang bertikai untuk merencanakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Mediator memberitahukan kepada pihak yang sedang bertikai bahwa ia (mediator) akan menemui mereka secara bersama-sama namun ada juga sesi yang lain dimana mediator akan menemui mereka secara terpisah dan sendiri-sendiri.

4.   Mediator memberitahukan aturan dasar. Mediator memberitahukan kepada pihak-pihak yang bertikai tiga aturan dasar yang harus dipatuhi oleh mereka ketika proses mediasi sedang berlangsung. Aturan dasar tersebut yaitu:

1) Tidak memotong pembicaraan lawan bicara.

2) Menghindari serangan pribadi untuk menjaga agar suasana tetap damai.

3) Setuju untuk berusaha menemukan jalan keluar dan menyelesaikan masalah.

Setelah selesai menginformasikan aturan dasar tersebut mediator menanyakan kepada masing-masing pihak dengan menyebut namanya apakan mereka setuju untuk mengikuti aturan tersebut.

5.   Menginformasikan kerahasiaan dan pertanyaan. Mediator menjelaskan kepada pihak yang sedang bertikai bahwa ia (mediator) akan menjaga semua kerahasiaan informasi yang diberikan oleh pihak-pihak yang sedang bertikai dan akan menghancurkan semua catatan tersebut pada akhir mediasi. Tetapi meskipun demikian ada pengecualian terhadap masalah kerahasiaan, seperti misalnya semua pembicaraan yang menyangkut masalah kekerasan terhadap anak, narkoba, pelanggaran atau ancaman yang membahayakan masa depan. Dalam hal ini mediator dapat menambahkan atau mengutip peraturan negara/sekolah terhadap pelanggaran serius sebagai pengecualian. Kemudian mediator jangan lupa untuk menanyakan apakah mereka (pihak yang sedang bertikai) mempunyai pertanyaan tentang proses mediasi ini.

6.   Menginformasikan keikutsertaan secara sukarela. Mediator menjelaskan kepada pihak-pihak yang sedang bertikai bahwa keikutsertaan dan kehadiran mereka dalam proses mediasi ini bersifat sukarela dan tidak ada paksaan dari manapun. Kemudian mediator menanyakan kepada mereka apakah mereka ingin melanjutkan proses mediasi ini.

(b)           Penuturan cerita (story-telling)

Ketika pihak-pihak yang bertikai (disputants) menuturkan cerita menurut versinya masing-masing mediator harus mendengarkan dengan seksama. Pada saat yang sama mediator menciptakan kepercayaan dan bersiap mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan dari kedua belah pihak. Pada langkah ini mediator dapat melakukan beberapa hal seperti:

1.   Menanyakan kepada kedua belah pihak, mana yang ingin memulai berbicara terlebih dahulu atau pilih salah satu dari mereka untuk mengawali berbicara atau bercerita.

2.   Menggunakan ketrampilan mendengarkan secara aktif untuk menunjukkan bahwa mediator benar-benar memahami apa yang diceritakan oleh masing-masing pihak yang sedang bertikai (disputans), dan setelah itu jangan lupa untuk menceritakan kembali baik isi maupun perasaan mereka. Ketrampilan mendengarkan secara aktif juga dapat membantu pihak yang sedang bertikai (disputans) untuk mendengar dan memahami dengan baik apa yang diceritakan oleh masing-masing pihak.

3.   Memberlakukan aturan dasar kepada disputants seperti tidak boleh memotong pembicaraan, memanggil nama lawannya, dan lain-lain.

4.   Mengubah bahasa negatif menjadi bahasa yang netral dan positif, contoh: Bahasa semula yang digunakan oleh disputants, “saya tidak ingin melihat wajahnya lagi” diubah oleh mediator menjadi bahasa yang netral menjadi, “anda merasa bahwa sangat sulit bagi kalian berdua untuk berdekatan satu sama lain”.

5.   Mengajukan pertanyaan terbuka untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap mengenai fakta dan mengenai bagaimana perasaan orang tersebut, contoh: Pertanyaan tertutup, “apakah ia memanggil nama anda ketika anda menghampirinya?” dapat diubah oleh mediator menjadi pertanyaan terbuka, “dapatkah anda menceritakan lebih jauh apa yang terjadi ketika anda menghampirinya ?” Ketika menanyakan perasaan, dapat dirumuskan misalnya,

“bagaimana perasaan anda karena hal itu?”

6.   Merangkum cerita dengan menggunakan gaya bahasa yang netral dan positif. Merangkum cerita menunjukkan bahwa mediator telah mendengarkan cerita dan memberikan perhatian penuh kepada masing-masing pihak yang sedang bertikai (disputans). Hal ini dapat membantu memastikan bahwa mediator telah memahami secara benar apa yang diceritakan oleh masing-masing pihak (disputants). Jika memungkinkan, garis bawahi hal-hal yang umum di antara masing-masing pihak (disputants).

7.   Mediator memutuskan apakah perlu mengadakan diskusi atau tidak sebelum beralih ke pokok permasalahan atau kebutuhan. Jika perlu mediator mengadakan pertemuan kaukus agar mediator dapat mengecek satu sama lain sebelum ke pokok permasalahan dan kebutuhan. Dalam pertemuan tersebut mediator dapat mulai mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan dan memutuskan untuk melanjutkan ke proses selanjutnya.

Berikut adalah daftar beberapa pertanyaan penting yang sangat membantu bagi mediator pada fase penuturan cerita:

1.     Ketika memulai storytelling: Apa yang membuat anda datang ke mediasi hari ini? Dapatkah anda menceritakan kepada kami tentang keadaan yang membuat anda datang hari ini?

2.     Riwayat permasalahan: Dapatkah anda menceritakan kepada kami tentang penyebab masalah anda saat ini? Apakah anda berdua pernah memiliki msalah sebelumnya?

3.     Riwayat hubungan: Dapatkah anda menceritakan kepada kami mengenai hubungan masa lalu anda? Apa, jika ada, yang telah berubah diantara anda berdua? Menurut anda, apa yang memicu terjadinya perubahan tersebut?

4.     Orang lain: Apakah ada orang lain yang menyebabkan terjadinya masalah diantara anda berdua? Siapa lagi yang menginginkan masalah ini terus berlanjut?

5.     Perasaan: Bagaimana perasaan anda ketika mengatakan atau melakukan hal itu? Apa yang mungkin telah membuat anda merasa demikian? Bagaimana perasaan anda sekarang?

6.     Maksud: Apa yang ada dalam pikiran anda ketika anda mengatakan atau melakukan hal itu?

7.     Asumsi mengenai maksud orang lain: Apa menurut anda yang ada di dalam pikirannya ketika ia mengatakan atau melakukan hal itu?

8.     Mengecek asumsi dengan orang lain: Anda mendengar si B mengatakan apa yang ia kira ada di dalam pikiran anda ketika anda mengatakan atau melakukan hal itu. Apakah hal itu cocok dengan apa yang ada di dalam pikiran anda?

9.     Kabar burung: Kabar burung apa yang anda dengar? Adakah cara unruk mengklarifikasi penyebab kabar burung tersebut? Apakah kabar burung tersebut sesuai dengan apa yang baru saja anda dengar?

10. Kesalahpahaman: Adakah kemungkinan terjadi suatu kesalahpahaman diantara kalian berdua? Menurut kalian berdua, apa yang menyebabkan kesalahpahaman tersebut? Menurut anda, bagaimana kami dapat menjernihkan kesalahpahaman ini?

11. Hubungan di masa datang: Apa yang kalian inginkan terjadi diantara kalian berdua? Bagaimana anda melihat hubungan (persahabatan) anda di masa yang akan datang?

 

Add comment



Security code
Refresh