Get Adobe Flash player

INFORMASI : SILAHKAN KUNJUNGI WEBSITE TERBARU WMC DI : mediasiwalisongo.com ATAU SILAHKAN LANGSUNG KLIK DISINI... TERIMA KASIH...

Statistik

Members : 4674
Content : 62
Content View Hits : 139119
We have 46 guests online

education for peace dengan pendekatan unity based

 

By Ahwan Fanani

A.     Pembuka

               Penanggulangan konflik setelah terjadinya konflik lebih mahal biayanya, baik biaya material, sosial, maupun psikologis, dibandingkan usaha preventif sebelum terjadinya konflik. Prinsip preventif saat ini menjadi pilihan untuk menciptakan perdamaian. Usaha-usaha perdamaian yang dahulu banyak diwarnai dengan upaya penciptaan negative peace, yaitu kondisi tanpa perang, sekarang diwarnai usaha-usaha penciptaan positive peace, yakni kondisi tanpa adanya kekerasan struktural dan kultural. Positive peace dilakukan melalui usaha pendidikan, pemberantasan kemiskinan, penyakit, buta huruf, peminggiran kaum papa, dan peningkatan taraf ekonomi serta perjuangan demokratisasi dan hak asasi manusia. Secara garis besar penciptaan perdamaian sekarang ini, tidak lagi semata melalui peacekeeping, yaitu penanggulangan konflik kekerasan, melainkan lebih diarahkan kepada peace making dan peace building.1

               Pendidikan menjadi pilar penting dalam penciptaan positive peace. Pertama, pendidikan adalah pilar modernitas dan menentukan tingkat perkembangan sosial, kultural, dan ekonomi masyarakat dalam jangka panjang. Kedua, pendidikan adalah sarana penanaman kesadaran yang paling efektif bagi audiens yang luas.

               Karena itu, semenjak lama studi tentang perdamaian (peace studies) dilirik banyak pihak untuk memahami akar konflik dan bagaimana cara menawarkan solusi damai untuk mengubah kondisi tidak adil menjadi kondisi yang adil.2 Peace studies awalnya dilakukan melalui penelitian tentang damai (peace research) di perguruan-perguruan tinggi pada tahun 1950-an.3 Arah peace studies saat itu lebih berat kepada riset tentang berbagai ragam pengetahuan yang terkait dengan konflik langsung (direct conflict). Peace studies dan conflict studies berusaha mengidentifikasi dan menganalisis perilaku kekerasan dan perilaku nonkekerasan berikut mekanisme struktural dalam menyikapi konflik sosial. Pemahaman terhadap proses semacam itu diharapkan membawa kepada pemahaman mengenai kondisi manusia yang lebih ideal. 4

                 Keberadaan peace studies (PS) yang bersifat akademis tersebut memiliki keterbatasan, utamanya bagi penanaman nilai dan sikap di kalangan pelajar pendidikan dasar dan menengah. Obyek PS juga dianggap terlalu berat kepada konflik dibandingkan kepada damai. Akibatnya, damai hanya dimaknai secara negatif, yaitu tidak adanya perang.5 Sifat akademis PS membuatnya juga menjadi sesuai untuk segmen yang terbatas, yaitu mereka yang memiliki minat dalam kajian tersebut. Oleh karena itu, muncullah kemudian peace education (pendidikan damai) yang lebih menekankan kepada proses pembelajaran.6

               Peace education (pendidikan damai) kemudian menjadi trend untuk melakukan transformasi perdamaian kepada audiens yang lebih luas. Pendidikan damai ditujukan kepada sekolah pendidikan formal, pendidikan nonformal, maupun pendidikan informal.

               Meskipun saat ini telah diterima luas, peace education ternyata masih menimbulkan ketidakpuasan. Salah ketidakpuasan tersebut melahirkan Education for Peace (EFP) yang digagas oleh Hossein B. Danesh. Hossein melihat bahwa peace education (PE) masih bersifat permukaan dalam menumbuhkan sikap terhadap penciptaan perdamaian (peace). Bagi Hossein, PE adalah bagian dari EFP karena dimensi EFP lebih luas dan mencakup ranah intraindividu, interpelsonal, intersosial, dan antarnegara.

               Makalah ini mencoba untuk mendeskripsikan tentang EFP, sebagai sebuah pendekatan yang relatif baru. Namun demikian, pemahaman tentang posisi EFP akan lebih jelas manakala ditempatkan dalam konfigurasi PE yang telah ada. Hal itu penting dilakukan karena istilah EFP sendiri telah dipakai secara internasional oleh Unesco. Betty A. Reardon, misalnya, mengasosiasikan EFP dengan realitas pendidikan internasional. Ia membedakan antara education for peace and education about peace. Apabila yang pertama terkait dengan realisme pendidikan inernasional, yang kedua lebih mengarah kepada pendidikan multikultural dan lingkungan.7

Antara Peace Education dan Education for Peace

Pembedaan antara peace education (PE) dan education for peace (EFP) tidak selalu mendapat perhatian dari berbagai kalangan sehingga dua istilah tersebut bisa saling menggantikan. Pada tahun 1973, misalnya, dalam Intrnational Peace Research Assocation Fourth General Conference Galtung sudah menjajaki kemungkinan pendidikan untuk dan dengan perdamaian (education for and eith peace). Dalam upaya tersebut, ia tidak melakukan pembedaan antara PE dan EFP. Yang ia lakukan adalah mencari formulasi bentuk dan isi isi pendidikan damai. itu ia maksudkan untuk mencari berbagai kemungkinan pengembangan PE. Dalam rangka itu, ia melihat perlunya 1) mengaitkan bentuk pendidikan dengan gagasan damai, baik damai dari kekerasan langsung (direct violence) maupun kekerasan struktural (structural violence), dan 2) mengaitkan pendidikan damai dengan pendidikan formal, baik di tingkat sekolah dasar sekolah menengah.8 Gagasan semacam itu lahir karena pada tahun-tahun tersebut, yang berkembang pesat baru peace studies di perguruan-perguruan tinggi.

David Hicks pun memberikan judul bukunya Education for Peace dengan pembahasan mengenai peace education.9 Betty A. Reardon membagi antara education for negative peace dan education for positive peace dengan pembahasan yang mengidentikkan antara PE dan EFP.10 Dalam tulisan-tulisan yang lain, Reardon membagi antara education for peace (EFP) dan education about peace (EAP), sebagaimana diungkapkan oleh Havva Kok.

Menurut Kok, Betty A. Reardon membuat klasifikasi mengenai dua trend pendidikan damai, yaitu EFP dan EAP. EFP mengacu kepada realitas pendidikan internasional (pendidikan global), termasuk pendidikan untuk hubungan internasional, antropologi budaya, dan imu lingkungan. EFP didefinisikan sebagai: “education to create some of the preconditions for the achievement of peace”, yaitu pendidikan untuk menciptakan prakondisi untuk mencapai perdamaian11

Di sisi lain, EAP diartikan sebagai pendidikan untuk pengembangan dan praktek untik institusi dan proses yang mencakup tata sosial yang damai. EAP mencakup pelatihan resolusi konflik, pendidikan HAM, dan PE yang dilaksanakan di sekolah dasar dan menengah. EAP mewakili bidang kaji pendidikan damai yang tradisional dan lebih sempit.12

Pembagian yang dilakukan Reardon tersebut seolah mengindikasikan adanya perbedaan antara PE dan EFP. Akan tetapi, pembedaan tersebut tidak mendapatkan elaborasi memadai sehingga keduanya cenderung masih tumpang tindih. Tampaknya Reardon mulai membagi antara EFP dan EAP, yang lebih dekat kepada EP. Apabila pembagian itu dterima, ada sebuah prototipe mengenai pembagian antara EFP dan PE karena PE mewakili EAP.

               Pembagian antara PE dan EFP itu secara lebih tegas dipakai oleh Hossein B. Danesh. Hossein jelas membedakan antara EFP dan PE berdasarkan keluasan cakupan kajiannya. EFP dipahami Hossein sebagai bidang kajian yang komprehensif mengenai perdamaian, sementara PE ditempatkan sebagai bagian atau unsur EFP. Hossein bahkan mencoba untuk membuat teori yang integratif mengenai PE sebagaimana ditunjukkan dalam tulisannya Toward an Integrative Theory of Peace Education.13

Education for Peace (EFP) Berbasis Unity-Based

               Hossein menyadari bahwa konsep pendidikan damai telah diterima luas dan menjadi bagian dari proses demokratisasi masyarakat. Akan tetapi berdasarkan pembagian Bar Tall tentang ragam-ragam PE, seperti 1) PE sebagai upaya mengubah mindset (konstruk fikir), 2) PE sebagai upaya penanaman seperangkat keterampilan, 3) PE sebagai upaya pendidikan HAM, dan 4) PE sebagai pendidikan lingkungan, perlucutan senjata, dan promosi budaya damai, Hossein sampai kepada kesimpulan bahwa ada kesulitan untuk mencapai satu definisi holistik mengenai “damai”.14 Itulah yang coba ditawarkan oleh Hossein. Ia merancang satu kerangka pendidikan damai dengan sebuah gagasan integratif mengenai “damai.” Gagasan integratif mengenai damai itulah yang menjadi pilar utama education for peace menurut model unity-based, istilah lamanya conflict-free conflict resolution (CFCR), sehingga EFP versi unity-based ini disebut juga dengan Integrative Theory of Peace (ITP).

               Pendekatan ITP pada dasarnya adalah penggabungan antara gagasan filosofis mengenai damai dan pembangunan landasan epistemologis dalam menyikapi konflik, serta analisis psikologi perkembangan atas kesadaran manusia secara individu dan sosial. Karena itu, ITP dibangun di atas premis-premis dasar yang menjadi pijakan rumusan EFP versi unity-based secara menyeluruh. Premis-premis dasar yang menjadi pondasi ITP tersebut antara lain:

1. Bahwa manusia berhubungan dengan dirinya sendiri, dunia, dan kehidupan melalui lensa pandangan dunia mereka

2.       Pendidikan memiliki peran pokok dalam perumusan dan pengembangan pandangan dunia dalam konteks keluarga, sekolah, dan komunitas

3.   Pendidikan damai yang efektif dan lestari perlu terfokus kepada semua aspek kehidupan manusia, yaitu intelektual, emosional, sosial, politik, dan moral dan spiritual.

Pendidikan untuk damai dengan pendekatan ITP tersebut memiliki beberapa subteori dasar. Sub-sub teori dalam ITP tersebut adalah:16

1.       adalah kondisi psikososial, politik, moral, dan spiritual

2.       Damai adalah ekspresi utama dari pandangan dunia unity-based

3.       Suatu pendidikan yang komprehensif, integratif, dan sepanjang hayat adalah pendekatan yang paling efektif bagi pengembangan pandangan dunia unity-based.

4.       Pandangan dunia unity-based adalah prasyarat bagi penciptaan budaya damai dan budaya penyembuhan.

Sub-sub teori tersebut menggemakan prinsip-prinsip dasar model unity-based yang berlaku secara umum, baik dalam bidang resolusi konflik maupun dalam bidang pendidikan. Prinsip-prinsip dasar model unity-based tersebut adalah prinsip kesatuan (unity), prinsip pandangan dunia (worldview), dan prinsip developmental, baik dalam level individu maupun sosial.

a.       Prinsip Kesatuan dan Pendidikan Damai

Prinsip kesatuan adalah landasan untuk mendirikanm bangunan pendidikan damai. Prinsip kesatuan tersebut berpijak kepada asumsi bahwa pada dasarnya manusia adalah bersatu. Ketika kondisi kesatuan itu ditumbuhkan kembali, maka konflik dengan sendirinya akan mudah dicegah atau dicarikan solusinya. Gagasan utama prinsip kesatuan adalah bahwa membangun kondisi yang sehat, bukan mengurusi gejala-gejala penyakit. Dengan cara tersebut, konflik dipecahkan bukan dengan mencari gejala dan analisis konflik secara mendetail, melainkan lebih menekankan upaya pengembalian kondisi tanpa konflik.

Konsep tersebut diperkenalkan karena Hossein beranggapan bahwa berbagai pendekatan terhadap konflik yang ada umumnya didasari asumsi bahwa konflik tidak terelakkan dalam kehidupan manusia. Ia mengkritik asumsi dasar teori konflik Dahrendorf, Coser. Meskipun Hossein mengakui nilai positif pendekatan-pendekatan seperti cooperatif conflict resolution, conflict transformation, dan principled negotiation yang diperkenalkan Fischer dan Ury sebagai usaha kooperatif, positif, dan peduli dalam memahami konflik dan mengatasinya, tetapi ia masih keberatan dengan asumsi dasar yang menjadi ruh pendekatan-pendekatan tersebut.17

Karena itu, Hossein menyatakan bahwa: “Tugas utama disiplin pendidikan damai, menurut pandangan saya, adalah untuk mengidentifikasi konsep dan praktik pendidikan yang esensial yang dapat meningkatkan level fungsi psikologis manusia terhadap isu konflik dan kesatuan.”18 Dalam pernyataan tersebut tersirat beberapa elemen penting yang membangun EFP.

Pertama adalah bahwa pendidikan damai harus diawali dengan identifikasi konsep damai yang mampu meningkatkan level psikologis manusia. Konsep damai itu dimaknai dengan: “Sebuah kondisi sadar dan penuh tujuan dari konvergensi dua atau lebih entitas yang unik dalam kondisi selaras, ientegratif, dan kooperatif untuk menciptakan satu entitas yang berkembang, yang biasanya, dari level integrasi dan kompleksitas yang setara atau lebih tinggi.”

Kedua, kondisi kesatuan itu mencakup dimensi psikologis dan metafisis. Persoalan konflik dan damai bukan semata disebabkan faktor pemenuhan kebutuhan dasar manusia, melainkan bagaimana kekuatan psikologis, seperti pengetahuan, cinta, dan kehendak dapat mengembangkan sifat instinktif manusia. Karena itu, gagasan psikologi yang mendasari motivasi untuk mencapai kesatuan tidak bisa hanya didasarkan atas pemenuhan kebutuhan pokok yang materialistis, melainkan juga kebutuhan yang nonmaterialistis. Karena itu, menurut Hossein, kebebasan sejati tercapai bila kekuatan (kapasitas) 1) pengetahuan, 2) cinta, dan 3) kehendak dapat mengontrol dorongan instinktif dan biologis manusia.

b.   Prinsip Pandangan Dunia dalam Pendidikan Damai

Pandangan dunia adalah prinsip kedua dalam EFP versi unity-based. Pandangan dunia digunakan untuk parameter dalam melihat tahap perkembangan kematangan suatu individu atau komunitas dan sekaligus digunakan sebagai parameter perubahan yang dikehendaki melalui EFP. Pengembangan kesadaran (conscious) dan prinsip developmentalisme hanya bisa bekerja apabila prinsip pandangan dunia digunakan. Dengan demikian ketiga prinsip: unity, WV, dan developmentalisme saling bersinergi dan yang satu mensyaratkan yang lain.

Selama ini, pandangan dunia, menurut Miller, terbagi atas tiga kerangka yang berbeda. Pertama, ada pandangan dunia yang melihat individu dan dunia termasuk dinamika perkembangan dan perubahan masing-masing, dalam kerangka mekanis dan kerangka kerja seperti mesin. Kedua, pandangan dunia organismis melihat dunia sebagai organisme hidup dalam sebuah kondisi perubahan yang konstan, adaptasi, dan modifikasi. Ketiga, pandangan dunia kontekstualistis memandang semua perilaku manusia memiliki makna dan terbuka bagi pemahaman dalam konteks sosial-historis tertentu.

Pandangan dunia itu umumnya dibentuk secara tidak sadar oleh masyarakat dan lingkungan melalui proses sosial. Setiap orang pasti memiliki pandangan dunia, baik disadari atau tidak karena masyarakat menanamkan pandangan dunianya dalam setiap anggota masyarakat. Namun demikian, pandangan dunia tidak bersifat deterministis dan statis melainkan bisa berkembang. Perkembangan dan transformasi pandangan dunia tersebut umumnya terjadi akibat dua sebab:19

1.   Perubahan Pandangan dunia karena adanya krisis besar, seperti Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Pandangan dunia yang dihasilkan oleh krisis besar, menurut Hossein tidak berlaku lama.

2.   Perubahan pandangan dunia akibat runtuhnya pandangan yang universal, yaitu adanya pandangan dunia yang baru yang diperkenalkan, yang menentang pandangan dunia yang ada dan menunjukkan kepada fase baru dalam perkembangan kesadaran kolektif manusia. Perubahan pandangan dunia model kedua ini bisa menimbulkan perubahan yang lebih lestari.

Hossein memetakan ada tiga pandangan dunia yang ada dalam diri individu maupun komunitas.

1. Pandangan Dunia Berbasis Kelangsungan Hidup (Survival-based worldview)

Pandangan dunia berbasis kelangsungan hidup dianalogikan dengan perkembangan manusia pada masa bayi dan kanak-kanak. Pandangan dunia semacam ini secara sosial bisa lahir dari kemiskinan, anarki, dan ketidakadilan. Penggunaan kekuatan dan kekuasaan sering digunalan untuk memperoleh ketaatan dari anggota masyarakat. Dampak terhadap individu adalah bahwa individu terkekang oleh kekuasaan dan selalu melihat kepada otoritas. Anggota kelompok lain boleh jadi sangat dikuasai oleh konformisme, pesimisme yang membuat mereka mudah menarik diri dari masalah, atau aktivis pemberontak. 20

2.   Pandangan Dunia Berbasis Identitas (Identity-based worldview)

Pandangan dunia berbasis identitas beranalogi dengan fase remaja dan berpuncak masa adolosens dan awal masa dewasa dalam kehidupan manusia. Fase tersebut ditandai dengan berkembangnya ide dan coba-coba, meningkatnya minat dan sikap, serta terjadinya kompetisi dan persaingan yang tajam. Fase tersebut menandai transisi antara masa kanak-kanak ke masa dewasa, dengan perkembangan pesat fisik, emosi, dan kekuatan mental.

Dalam perkembangan sosial, fase remaja ini sejalan dengan transisi masyarakat otoriter ke masyarakat yang demokratis. Perebutan kekuasaan dan kompetisi yang ketas adalah prinsip utama dalam fase tersebut dengan tujuan utama adalah mencapai kemenangan dan dominasi. Meskipun sudah lebih maju dibandingkan dengan fase sebelumnya, namun keduanya rentan terhadap penyalahgunaan dalam berbagai bidang, seperti agama, ilmu pengetahuan, pemerintahan, teknologi, pernikahan, dan keluarga. Meskipun demikian, terjadi pergeseran kesadaran ke arah penciptaan peradaban damai.21

3.   Pandangan Dunia Berbasis Kesatuan (Unity-based world view)

Pandangan dunia berbasis persatuan analog dengan fase dewasa, fase kematangan dalam perkembangan kepribadian manusia. Kematangan tersebut ditandai dengan perubahan pandangan dunia dari pandangan dunia berbasis identitas dan perebutan kekuasaan ke dalam pandangan dunia kesatuan yang memandang bahwa umat manusia adalah satu. Kesatuan tersebut terjadi bukan dengan mencari keseragaman melalui kekuatan, sebagaimana dalam fase kanak-kanak, melainkan terjadi karena kesatuan kesadaran. Kesatuan tersebut tetap memelihara keanekaragaman dan keunikan masing-masing individu atau kelompok. Kesatuan yang menandai pandangan dunia kesatuan adalah kesatuan secara sukarela dengan dasar nilai-nilai keadilan, kesederajatan, kemajuan, keanekaragaman. Pandangan dunia inilah yang menjadi inti dari EFP.22

c.     Prinsip Developmental dalam Pendidikan Damai

               Kesatuan dan pandangan dunia tersebut beroperasi secara sinergis dalam prinsip developmental. Prinsip developmental yang dipakai oleh Hossein banyak mengadaptasi perkembangan kepribadian yang telah ada dalam psikologi. Di antara teori psikologi perkembangan yang dijadikan acuan oleh Hossein adalah psikologi perkembangan versi Hamburg Erikson, . Erikson membagi perkembangan kepribadian manusia menjadi delapan tahap: tahap bayi, tahap kanak-kanak, tahap prasekolah, tahap anak usia sekolah, tahap adolesens, tahap dewasa awal, tahap dewasa pertengahan, dan tahap dewasa lanjut.23 Teori Hossein lebih sederhana karena mengajukan hanya tiga tahap perkembangan kepribadian manusia dan komunitas, yaitu tahap kanak-kanak, remaja atau adolosens, dan tahap dewasa. Akan tetapi, elemen-elemen perkembangan yang ada dalam Erikson terefleksi dalam tahap-tahap perkembangan pandangan dunia yang dikemukakan oleh Hossein. Perbedaan Hossein dengan para teorisi perkembangan kepribadian terletak pada kenyataan bahwa Hossein mempergunakan tahap-tahap perkembangan tersebut untuk menganalisis perkembangan kesadaran dan pandangan dunia.

Tahap-tahap tersebut merefleksikan hubungan timbal-balik antara individu dan masyarakat dan digunakan untuk menganalisis individu dan masyarakat. Ketika diterapkan ke dalam pendidikan damai, gagasan developmentalisme tersebut mengasumsikan bahwa perkembangan manusia berlangsung dalam sumbu kesadaran dan merupakan respon terhadap sifat dasar diri sendiri, orang lain, dan realitas. Perkembangan kesadaran tersebut berlangsung dalam setiap pemahaman dan perilaku manusia.24

Pendidikan untuk damai diarahkan untuk mencapai tahap lebih tinggi, yaitu tahap dewasa, dalam perkembangan pemahaman, kejiwaan, dan perilaku manusia. Pendidikan damai juga berupaya mengembangkan kapasitas manusia, baik kapasitas pengetahuan, emosi (cinta), dan kehendak. Ketika manusia berkembang, proses ke arah kematangan akan terjadi. Kematangan kepribadian manusia dan kematangan pandangan dunia komunitas akan mengantarkan kepada kesederajatan dalam masyarakat dan kesedarajatan dalam hubungan sosial. Kesederajatan manusia pada gilirannya akan mengantarkan kepada keadilan dan keadilan akan membawa kepada kesatuan. Kesatuan adalah langkah akhir menuju perdamaian.    

Penutup

               Pendidikan untuk perdamaian dengan pendekatan Unity-Based International Education for Peace (EFP), yang dimotori oleh Hussein Danesh adalah sebuah pendekatan yang menggabungkan antara pendidikan, studi, dan pendekatan psikologis dan spiritual. Pendekatan tersebut telah diujicobakan di Bosnia Herzegovina untuk mendamaikan siswa-siswa sekolah dan para orang tua yang berasal dari tiga kelompok: Bosniak (Muslim), Kroat (Katolik) dan Serbia (Kristen Ortodoks) dan berhasil untuk menyatukan kembali elemen-elemen masyarakat tersebut dalam dunia pendidikan.

               Pendidikan untuk perdamaian yang digagas oleh EFP bisa menjadi `alternatif guna memberikan tawaran bagi dunia pendidikan, termasuk pendidikan nonformal maupun informal agar turut serta mengarusutamakan pendekatan damai dalam kehidupan. Umat manusia dalam perkembangan sosialnya saat ini telah mencapai taraf perkembangan yang tinggi, namun kemampuan untuk meminimalisir konflik masih belum berkembang pesat. Kompleksitas masalah hidup saat ini justru membuat konflik dan kekerasan sering dipilih untuk penyelesaian masalah yang instan, tetapi pada hakekatnya tidak menyenangkan semua pihak.

 

Add comment



Security code
Refresh