Get Adobe Flash player

INFORMASI : SILAHKAN KUNJUNGI WEBSITE TERBARU WMC DI : mediasiwalisongo.com ATAU SILAHKAN LANGSUNG KLIK DISINI... TERIMA KASIH...

Statistik

Members : 4674
Content : 62
Content View Hits : 139124
We have 55 guests online

pendekatan restorative circle lingkaran pemulihan dalam rekonsiliasi

 

Oleh: Ahwan Fanani

A.   PENDAHULUAN

Rekonsiliasi adalah upaya untuk menyelesaikan konflik, khususnya antar komunitas yang luas. Konflik adalah situasi dimana hubungan anggota komunitas atau antara kelompok rusak yang disertai dengan dehumanisasi masing-masing pihak. Tanpa adanya intervensi terhadap para pihak yang terlibat konflik, kebencian, dendam, dan pandangan negatif mengenai pihak lain tidak akan terobati. Rekonsiliasi memungkinkan adanya penyembuhan (healing) melalui penemuan kembali nilai kemanusiaan dari masing-masing pihak, pengakuan akan hak-hak korban, dan penyesalan dari pelaku kekerasan yang disertai dengan pemaafan. Dalam rekonsilasi, nilai keadilan tertentu sangat ditekankan sehingga semua pihak dapat merasakan keikhlasan akan peristiwa masa lalu karena hak-hak mereka telah diakui dan diberikan.

Salah satu model atau pendekatan rekonsiliasi adalah lingkaran pemulihan (restorative circle). Pendekatan tersebut tersebut diperkenalkan dan dikembangkan oleh Dominic Barter dari Brazil. Hal yang menarik dari pendekatan tersebut adalah adanya tahap-tahap yang terdefinisi untuk melakukan rekonsiliasi secara menyeluruh. Pendekatan lingkaran pemulihan (LP) dapat diterapkan dalam konflik skala kecil maupun skala besar. Arti penting lingkaran tersebut dapat dipahami melalui pemahaman tentang daur konflik.

Makalah ini adalah upaya untuk mendeskripsikan pendekatan LP secara singkat. Sumber utama dari makalah ini adalah kuliah Restorative Circles: A Method for Conflict Transformation and Peacebuilding yang disampaikan oleh Duke Duchscherer di European University Center for Peace Studies (EPU) di Standschlaining Austria tanggal 20-24 Juli 2009. Duke adalah trainer bersertifikat dari Kanada dan merupakan teman dari Dominic Barter. Ketika makalah ini ditulis, buku Dominic tentang LP belum selesai ditulis sehingga makalah ini bersandar sepenuhnya kepada materi yang disampaikan oleh Duke Duchscherer. Untuk penjelasan, penulis mencoba mencarikan bahan tambahan dari buku atau tulisan di internet, baik yang direkomendasikan oleh Duke maupun dari pelacakan pribadi penulis.

B.   REKONSILIASI DENGAN PENDEKATAN LINGKARAN PEMULIHAN (RESTORATIVE CIRCLE)

Dominic Barter adalah tokoh pendiri pendekatan lingkaran pemulihan dari Brazil.[1] Barter adalah praktisi dan trainer dalam bidang resolusi konflik. Ia melakukan studi atas hubungan antara perubahan sosial dan personal serta peran konflik semenjak tahun 1980-an. Sejak tahun 2004 dia bekerja sebagao konsultan dan direktur program pelatihan proyek-proyek utama Brazilian Restorative Justice, bekerjasama dengan United Nation Development Program (UNDP), UNESCO, Kementerian Kehakiman, Kementerian Pendidikan, dan Sekretariat Khusus Hak Asasi Manusia. Barter berkonsentrasi kepada pengembangan model yang efektif dan program pelatihan bagi para praktisi untuk mengatasi kriminalitas remaja dan dampaknya. Untuk menjalankan proyek tersebut, ia melakukan kerjasama dengan para hakim, administrator sekolah, polisi, pelayanan sosial, kaum muda, dan pemimpin masyarakat. Barter juga menjadi koordinator Proyek Keadilah Restoratif untuk Pusat Internasional bagi Komunikasi Nonkekerasan (Restorative Justice Project for the international Center for Nonviolent Communication).[2]

               Barter memberikan formula untuk melakukan rekonsiliasi melalui metode lingkaran pemulihan (restorative circle). Metode lingkaran pemulihan dilakukan dengan memetakan proses rekonsiliasi ke dalam lingkaran-lingkaran, yaitu pra lingkaran, lingkaran, dan pasca lingkaran. Rekonsiliasi dengan metode lingkaran tersebut didasarkan atas upaya penciptaan kembali kehidupan bersama secara damai (peaceful co-existence), kepercayaan (trust), dan empati.                                          

               Rekonsiliasi dengan metode lingkaran itu ditunjang oleh beberapa pilar konspetual, yaitu penceritaan kebenaran (truth telling), penyembuhan (healing), keadilan restoratif, dan perbaikan (reparasi). Hubungan antara rekonsiliasi dengan empat pilar tersebut adalah bahwa empat pilar tersebut menjadi sarana bagi penciptaan koeksistensi, kepercayaan, dan empati.[3]

C.   KOMPONEN LINGKARAN PEMULIHAN[4]

1.   Pihak-pihak yang Terlibat Konflik

Umumnya upaya rekonsiliasi melibatkan tiga pihak, yaitu pelaku kekerasan (perpetrator), korban (victim), dan komunitas konflik. Dalam pendekatan lingkaran, ketiganya tetap diacu sebagai pihak-pihak yang ikut serta dalam proses rekonsiliasi. Hanya saja, istilah pelaku kekerasan dan korban dirasa memiliki konotasi yang kurang tepat untuk mendukung rekonsiliasi. Istilah-istilah tersebut mengandung konotasi yang mengingatkan posisi masing-masing pihak, justifikasi atas kesalahan satu pihak dan penekanan akan kelemahan pihak lain. Secara umum, konotasi itu tidak menun jang upaya memanusiakan semua pihak yang terlibat dalam konflik. Karena itu, pendekatan lingkaran pemulihan menggunakan istilah lain dengan konotasi yang dirasa lebih lunak, yaitu pembuat cerita (author), selanjutnya disebut PC, bagi pelaku kekerasan dan penerima narasi (receiver), selanjutnya disebut PN, bagi korban kekerasan.

2.   Fasilitator

Selain tiga pihak di atas ada satu pihak yang memiliki peran besar untuk menjaga agar proses rekonsiliasi berlangsung, yaitu fasilitator. Fasilitator adalah orang yang paling mengetahui proses rekonsiliasi. Posisi fasilitator bersifat sukarela dan idealnya berasal dari komunitas itu sendiri. Ia tidak berfungsi sebagai wasit atau penentu kebenaran, melainkan bagian dari proses itu sendiri. Karena itu, fasilitator tidak disyaratkan bertindak sebagai pihak yang netral, melainkan memerankan diri sebagai multibias dan multikeberpihakan. Hal terpenting yang harus dimiliki fasilitator adalah keterampilan untuk mengarahkan biduk rekonsilasi melalui pendekatan lingkaran pemulihan untuk sampai kepada tujuan rekonsiliasi itu sendiri.

Keterampilan yang harus dimiliki oleh fasilitator tersebut melibatkan berbagai unsur. Duke Duchscherer mengemukakan beberapa keterampilan yang harus dimiliki oleh fasilitator lingkaran pemulihan, yaitu:[5]

a. Keterampilan observasi

Observasi dilakukan untuk menemukan fakta tindakan, bukan penafsiran atas tindakan. Observasi dilakukan dalam tahap pralingkaran atau dalam lingkaran itu sendiri. Dalam pembicaraan awal dengan pihak-pihak yang terlibat konflik, fasilitator berupaya untuk berfungsi seperti kamera dengan merekam fakta yang diungkapkan oleh pihak yang ia ajak bicara. Pernyataan dari pihak: “Dia bersikap sangat kasar”, misalnya harus diperjelas dan diarahkan kepada penceritaan fakta, seperti: “Dia berkata kepada saya: “Kamu orang yang bodoh.” Melalui observasi, fasilitator diharapkan mampu menemukan apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana tindakan para pihak terjadi. Hal itu membutuhkan kemampuan fasilitator untuk membedakan antara fakta tindakan dengan penafsiran atas tindakan dan mengarahkan pembicaraan untuk menggali fakta tindakan.

b.   Empati

Kemampuan berempati adalah kemampuan fasilitator untuk menunjukkan pengertian dan penghayatan atas apa yang dirasakan oleh para pihak yang berkonflik. Kemampuan berempati dapat ditunjukkan dengan keterampilan untuk mendengar. Berbeda dengan observasi yang menekankan aspek fakta tindakan, empati justru terfokus kepada makna tindakan, yaitu respon emosional atau psikologis yang ingin diungkapkan oleh para pihak. Keterampilan berempati ini berfungsi dalam semua tahap lingkaran dan menjadi prsyarat keberhasilan rekonsiliasi.

Pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan empati memiliki karakeristik berbeda dengan pertanyaan-pertanyaan observasi. Fasilitator dituntut untuk mampu menterjemahkan pernyataan pihak ke dalam bentuk pertanyaan kebutuhan. Contoh, ketika ada pihak yang mengatakan: “Dia orang yang kasar”, maka fasilitator bisa menanyakan kepada pihak tersebut: “Apakah kamu menginginkan pernghargaan dari dia?” Pertanyaan empati tersebut digunakan sebagai umpan balik kepada pihak yang menuturkan fakta tindakan dan sekaligus sebagai upaya menterjemahkan bahasa posisi ke bahasa kepentingan atau grammar kehidupan (lihat pada subbab Bahasa kehidupan).

3.   Bahasa Kehidupan (Grammar of Life)

Bahasa kehidupan adalah kunci untuk mengarahkan proses rekonsiliasi. Bahasa kehidupan adalah ungkapan mengenai kebutuhan manusia yang mendasar. Dalam mediasi dikenal adanya perbedaan antara posisi dan interest. Posisi adalah kepentingan yang eksplisit diungkapkan para pihak, misalnya: “Saya tidak mau ia bertindak kasar.” Interest adalah motivasi atau yang lebih abstrak dan lebih luas yang menggarisbawahi posisi. Ungkapan di atas yang menggambarkan posisi bisa diterjemahkan ke dalam interest, seperti: “Saya ingin penghormatan.” Istilah bahasa kehidupan dalam rekonsiliasi sejajar dengan interest dalam bahasa negosiasi berbasis interest (mediasi fasilitatif)[6] atau point of unity (titik kesatuan) dalam istilah pendekatan unity-based.

Bahasa kehidupan berfungsi sebagai 1) sarana untuk menciptakan rasa saling memahami, 2) sarana humanisasi korban dan pelaku penyerangan, dan 3) untuk mencapai kesepakatan bersama. Dalam proses lingkaran, fasilitator harus mampu menterjemahkan ungkapan atau pernyataan para pihak ke dalam bahasa kehidupan sehingga mereka bisa menemukan titik persamaan dan pengakuan atas sisi kemanusiaan pihak lain. Hal itu menjadi jalan bagi terjadinya perbaikan hubungan selama proses rekonsiliasi.

Vesna Mitrovich memetakan sembilan (9) kategori kebutuhan atau bahasa kehidupan manusia. Masing-masing kategori memiliki daftar kebutuhan dasar manusia. Sembilan kategori tersebut adalah:[7]

a. Bertahan hidup secara fisik, meliputi udara, makanan, minuman, kesehatan, tempat berlindung, keamanan, konsistensi, ungkapan seksual, istirahat dan rileks

b. Pemeiharaan, meliputi sentuhan, afeksi fisik, kehangatan, kelembutan, perhatian, ikatan, kenyamanan

c. Mental, seperti tantangan atau rangsangan, kejelasan dan pemahaman, informasi, kesadaran, refleksi, diskriminasi

d. Otonomi untuk memilih tujuan, nilai, dan cara merealisasikan, seperti interdependensi, pilihan, individualitas, pemberdayaan diri, menyendiri, kebebasan emosi, spiritual, dan fisik

e. Integritas, seperti nilai diri, otentisitas diri,penghargaan dari orang lain, penghargaan diri, tujuan atau makna, visi atau impian, kejujuran, efektivitas

f.   Interdependensi untuk menerima dan memperluas kepada yang lain, seperti penerimaan, penghargaan, kedekatan, komunitas, kasih sayang, hubungan, dipertimbangkan, kerjasama, keamanan dan kemerdekaan emosi, empati, kedekatan, diakomodasi, cinta, penentraman hati, penghargaan, dukungan, kepercayaan, pemahaman, kehangatan, sumbangan untuk memperkaya kehidupan melalui kekuasaan, dan kejujuran untuk mengetahui keterbatasan kita.

g. Ekspresi diri, seperti: kreativitas, pertumbuhan, penyembuhan, belajar dan penguasaan, makna, pengajaran, mencipta

h. Energi spiritual, seperti keindahan, harmoni, kedamaian, tertib, waktu longgar, inspirasi, keberadaan, kesederajatan, timbal balik

i.   Perayaan hidup, seperti: kehidupan, kesenangan, kenikmatan, humor, intensitas, hasrat, permainan, rangsangan, lingkaran kelahiran dan kematian, duka cita atas orang yang dicintai, mimpi yang tidak terpenuhi, dan duka cita atas keterbatasan

4.   Tiga Tahap Proses Pemulihan

Tahap-tahap rekonsiliasi dalam pendekatan lingkaran pemulihan dilakukan dalam lingkaran-lingkaran. Lingkaran merujuk kepada tahapan-tahapan proses yang dilakukan dalam rekonsiliasi. Secara umum, lingkaran itu terbagi menjadi tiga: 1) pra-lingkaran, 2) lingkaran, 3) pasca-lingkaran. masing-masing lingkaran memiliki proses dan fungsi tersendiri.

a. Pralingkaran

Pralingkaran adalah proses untuk menemui para pihak untuk mendengar fakta dari mereka dan mengajak mereka untuk bertemu bersama dalam lingkaran. Karena itu, pralingkaran dilakukan secara terpisah dimana fasilitator menemui PC, PC, dan KK secara bergantian. Pihak utama yang perlu dihubungani dalam pralingkaran adalah PC dan PN. Sementara itu, KK yang ditemui dan diundang adalah mereka yang ditunjuk oleh kedua belah pihak sebagai pihak yang perlu hadir dalam proses lingkaran.

Pralingkaran adalah proses awal untuk menuju proses inti rekonsiliasi yang dilakukan melalui lingkaran. Tiga hal yang patut dicatat dalam proses pralingkaran, yaitu:[8]

1)     Mengidentifikasi tindakan secara jelas, yaitu dengan mengobservasi atau mengeksplorasi fakta tindakan tanpa penilaian atau komentar yang mengandung nilai emosi

2)     Mendengar dengan empati pengalaman masing-masing pihak yang akan ikut serta dalam lingkaran. Hal itu dilakukan untuk menemukan arti penting atau makna tindakan bagi masing-masing pihak sehingga bisa mengurangi rasa sakit yang dialami masing-masing pihak dan membangun kepercayaan terhadap fasilitator

3)     Selama pralingkaran, fasilitator dapat mencapai tujuan:

a)     Memberikan informasi kepada para pihak mengenai proses dialog yang akan dilakukan dalam proses lingkaran pemulihan

b)     Memberikan kesempatan para pihak untuk menyebut atau mengundang orang-orang yang dipandang perlu untuk hadir dalam lingkaran guna menyelesaikan konflik

c)       Mengetahui apakah para pihak akan bersedia untuk ikut serta. Jika mereka bersedia, temukan alasan mengapa mereka bersedia dan apa tujuan yang ingin dicapai

b. Lingkaran

Lingkaran adalah tahap utama dalam rekonsiliasi dengan model lingkaran pemulihan. Dalam lingkaran itulah, proses komunikasi langsung melalui penceritaan kebenaran, pengakuan kesalahan, penyesalan, pemaafan, dan reparasi dilakukan sehingga pada akhirnya ada tindakan-tindakan bersama yang akan disepakati. Lingkaran terdiri atas tiga ronde, yaitu: a. pemahaman bersama, b. pertanggungjawaban pribadi, dan c. tindakan yang disepakati.[9]

1)   Ronde pertama: pemahaman bersama

Pemahaman bersama dalam proses lingkaran pemulihan dilakukan melalui dialog dengan memberikan kesempatan para pihak menyampaikan fakta atau perasaannya. Para pihak yang berpartisipasi diajak untuk saling mendengarkan satu sama lain. Fasilitator menggawangi agar masing-masing pihak mendapatkan kepastian bahwa mereka didengarkan oleh pihak lain sebagaimana mereka ingin didengarkan. Asumsi dasar yang digunakan oleh fasilitator adalah bahwa para pihak mau datang dan berbicara karena mereka berharap untuk didengarkan.

Pada dasarnya fasiltator mempersilakan siapa pun yang ingin memulai dialog. Akan tetapi, ketika tidak ada yang mau memulai, ia bisa menunjukkan pihak yang terlebih dahulu memulai, utamanya PN yang dipandang merasakan derita paling banyak.

Fasilitator mempersilakan agar pihak tersebut (PN) untuk menyampaikan kebenaran yang ia pahami. Lalu fasilitator meminta pihak lain (PC) tersebut mengulang apa yang disampaikan oleh pihak PN. Selesai PC mengulang apa yang ia dengar dari PN, ia menanyakan kembali kepada pihak pertama (PN) apakah itu yang ia harap untuk didengar PC. Fasilitator menanyakan kembali kepada PN tentang apakah ada hal lain yang ingin ia sampaikan. Hal yang sama juga dilakukan fasilitator kepada PC, agar ia menceritakan kebenaran yang ia pahami dan meminta PN mengulang apa yang ia dengar.

Ketika proses dialog dan penceritaan kebenaran itu selesai, maka selesai juga ronde pertama lingkaran pemulihan. Gagasan utama ronde pertama tersebut adalah bahwa 1) semua pihak mendapatkan kesempatan untuk berbicara, 2) mereka benar-benar menyampaikan apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan, dan 3) mereka didengar sebagaimana sebenarnya mereka ingin didengar.

2)   Ronde kedua: pertanggungjawaban pribadi

Pertanggungjawaban pribadi adalah proses dimana masing-masing pihak, khususnya PC dan PN mulai bekerja tentang isu atau tindakan tertentu. Mereka bekerja untuk menemukan apa makna dan arti penting dari tindakan yang dilakukan oleh masing-masing pihak yang erlibat dalam konflik. fasilitator membantu para pihak untuk mengetahui apa sebenarnya tindakan PC yang sebenarnya yang membuat dia dipandang sebagai PC, apa tindakan yang telah dilakukan oleh PN, dan apa tindakan yang telah dilakukan oleh komunitas konflik.

Proses komunikasi yang digunakan dalam ronde kedua ini sama dengan proses komunikasi dalam ronde pertama. Satu pihak (pihak pertama) berbicara kepada pihak lain dan fasilitator memastikan bahwa pihak lain mendengar sebagaimana pihak pertama ingin didengar dan begitu sebaliknya. Pertanyaan-pertanyaan yang bisa diajukan oleh fasilitator adalah sebagai berikut:

-         Kebutuhan apa yang mendorong anda melakukan tindakan seperti itu?

-         Apa kebutuhan yang ingin anda capai dengan memutuskan tindakan seperti itu?

-         Apa yang anda ingin orang lain tahu ketika anda memutuskan tindakan demikian?

Dalam proses tersebut, fasilitator membantu menterjemahkan pernyataa atau ungkapan para pihak ke dalam bahasa kehidupan. Dengan cara tersebut, fasilitator membantu para pihak untuk memanusiakan dirinya dan memanusiakan orang lain. Dengan pemanusiaan diri dan pihak lain melalui pemahaman bahasa kehidupan, para pihak dapat diajak untuk memutuskan apa yang dapat mereka lakukan selanjutnya.

3)     Ronde ketiga: tindakan yang disepakati

Ronde ketiga merupakan proses pembentukan kerangka untuk melakukan tindakan. Dalam proses tersebut para pihak membuat rencana tindakan yang disepakati bersama. Tindakan bersama yang dicapai oleh para pihak dimaksudkan agar tindakan kekerasan atau konflik yang telah lalu tidak terulang lagi dan untuk memungkinkan para pihak memperoleh keamanan dan kondisi yang baik serta menguntungkan dengan berbagi bersama. Rencana tindakan dibuat secara kongkrit.

Fasilitator dapat memandu upaya pembuatan rencana tindakan bersama dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan, baik secara individu maupun umum. Pertanyaan secara individu adalah pertanyaan kepada orang-orang tertentu yang dipandang perlu didengar jawabannya. Pertanyaan umum diajukan kepada siapa saja yang bisa atau mau memberikan sumbang saran. Berdasarkan masukan dari para peserta lingkaran itulah, fasilitator membuat catatan rencana tindakan yang ia tuangkan dalam kertas. Kertas itu kemudian diedarkan kepada para peserta lingkaran untuk dicek dan dikomentari apabila ada kekurangan.

c.     Pascalingkaran

Pascalingkararan adalah tahap evaluasi setelah dilakukannya lingkaran. Pelaksanaan pascalingkaran ditentukan oleh para pihak yang ikut serta dalam lingkaran. Pascalingkaran bisa dilaksanakan seminggu, sebulan, atau jangka waktu lain yang disetujui. Tujuan sebenarnya pascalingkaran bukan untuk mengevaluasi pelaksanaan tindakan bersama, melainkan lebih merupakan evaluasi kondisi hubungan para pihak. Pasclingkaran bisa digunakan untuk mengetahui efek dari rekonsiliasi terhadap kehidupan para pihak yang sebelumnya terlibat konflik.[10]

Dalam pelaksanaan evaluasi selama pascalingkaran ada beberapa kemungkinan yang terjadi:

1)   Tindakan yang disepakati telah dilaksanakan dan pelaksanaan tersebut memuaskan para pihak. Dalam kondisi tersebut, pascalingkaran hanyalah kesempatan untuk merayakan kondisi baik tersebut.

2)   Tindakan yang telah disepakati telah dilaksanakan, tetapi para pihak tidak puas dengan hasilnya. Fasilitator dapat mengingatkan kembali para pihak tentang berbagai kebutuhan dan bahasa kehidupan yang telah mereka sampaikan. Dengan cara itu, para peserta pascalingaran dapat menyesuaikan kembali tindakan bersama untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan tersebut. Apabila usaha tersebut kurang bisa diterima para peserta, fasilitator dapat menegaskan kembali arti penting berbagai tindakan yang telah dilakukan dan mengungkapkan kembali kisah rahasia untuk sampai kepada kesepakatan tersebut. M

3)   Informasi mengenai pelaksanaan kesepakatan atau tentang perubahan kondisi tidak terjadi. Akibatnya, para pihak tidak puas dan fasilitator tidak tahu apa sebabnya. Fasilitator dapat mengingatkan kembali para pihak mengenai kebutuhan masing-masing yang ingin dipenuhi lewat tindakan bersama. Apabila rencana tindakan tidak dilakukan atau dilakukan tidak sesuai dengan rencana semula, maka perlu dipertanyakan kebutuhan apa yang telah dipenuhi. Apabila ternyata kebutuhan belum terpenuhi, maka dilakukan rencana ulang tentang tindakan bersama. Dengan sekenario demikian, diperlukan pascalingkaran kedua.

D.   PENUTUP

Pendekatan LP adalah sebuah pedekatan resolusi konflik yang sebenarnya prospektif. Pendekatan tersebut menyediakan peluang yang luas untuk pemecahan konflik, khususnya konflik komunal. Melalui formula LP, tahap-tahap rekonsiliasi sangat jelas terdefinisikan. Apa yang tampak kurang dari penjelasan LP sebenarnya berangkat dari teoritisasi yang belum selesai dilakukan oleh pendirinya.

Akan tetapi, kekurangan tersebut tidak mengurangi manfaat dari pendekatan LP tersebut. Rekonsiliasi konflik dengan pendekatan LP dapat digunakan untuk pelayanan sosial lebih luas bersama dengan mediasi konflik yang kini semakin mantap posisinya di Indonesia.

Tulisan ini hanyalah pengantar awal bagi kajian rekonsiliasi dengan pendekatan LP. Penyempurnaan tulisan ini akan sangat terbantu senadainya penggagas LP segera menyelesaikan penulisan bukunya dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Inggris. Namun begitu, semangat dan forpendekatan LP dapat digunakan dan dikembangkan siapa saja yang berminat dalam dunia resolusi konflik.

DAFTAR PUSTAKA

Daniel Pilpott. The Politcs of Past Evil: Religion, Reconciliation, and the Dilemmas of Transitional Justice. Notre Dame Indiana: University of Notre Dame Press. 2006.

David Bloomfield, Teresa Barnes and Luc Huyse (eds.) Reconciliation after Violent Conflict. Lihat http://www.idea.int/publications/reconciliation/upload/reconciliation_chap02.pdf. Diakses tanggal 23 Juli 2009.

Dennis J.D. Sandole, Sean Byrne, Ingrid Sandole-Staroste, and Jessica Senehi (eds.). Handbook of Conflict Analysys and Resolution. London, New York: Routledge. 2009.

Duke Duchscherer. “Circle in Detail.” Handout in Course: “Restorative Circles: A Method for Conflict Transformation and Peacebuilding “in EPU Austria July 20-24, 2009.

-------. “Components of Restorative Circles.” Handout in Course: “Restorative Circles: A Method for Conflict Transformation and Peacebuilding “in EPU Austria July 20-24, 2009

-------. “Post-Circle in Detail.” Handout in Course: “Restorative Circles: A Method for Conflict Transformation and Peacebuilding “in EPU Austria July 20-24, 2009. h. 1-2  

-------. “Pre-Circle in Detail.” Handout in Course: “Restorative Circles: A Method for Conflict Transformation and Peacebuilding “in EPU Austria July 20-24, 2009

-------. “Skills for the Facilitator.” Handout in Course: “Restorative Circles: A Method for Conflict Transformation and Peacebuilding “in EPU Austria July 20-24, 2009

http://www.stthomas.edu/justpeace/nvcrj/circles.htm. accessed 22 Juli 2009.

Len Doyal dan Ian Gough. A Theory of Human Needs. London: The Macmilan Press Ltd. 1991.

 

Add comment



Security code
Refresh